detikberau.com, Tanjung Redeb – Sektor pertanian di Kabupaten Berau kini perlahan mulai beralih dari cara bertani tradisional menuju lebih modern, dengan memanfaatkan teknologi. Terbaru saat ini, adalah menggunakan drone sprayer untuk pengendalian hama penyakit bagi tananam.
Pejabat Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (Jafung POPT) Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Bambang Sujatmiko menyebut, penyemprotan hama menggunakan metode itu bisa lebih menghemat waktu dan tenaga.
“Kami sudah punya drone sprayer, kapasitas 16 liter dengan kemampuan 7 hektare per jam,” ujarnya.
Pemanfaatan drone itu kata dia, merupakan upaya untuk mencegah penurunan produksi di kalangan petani karena gangguan hama. Salah satu penyebab yang paling sering adalah, lambannya penanganan karena penyemprotan secara manual.
Berau masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi sumber daya manusia, petani kita juga mulai menua, kondisi ini membuat pemanfaatan teknologi menjadi sangat penting,” tandasnya.
Menanggapi inovasi terbarukan ini, Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman menyebut, memang sudah saatnya Bumi Batiwakkal mencoba hal baru di sektor pertanian, pasalnya telah banyak komoditi yang mempunyai lumbungnya tersendiri.
Seperti halnya, Buyung-Buyung dan Semurut di Tabalar sebagai penghasil beras terbesar, Kelay, Teluk Bayur dan Sambaliung dengan komoditi andalan kakao serta kelapa dalam di areal pesisir, penyebaran ini, tentu perlu memanfaatkan teknologi guna mengefisienkan pencegahan dan perawatan.
“Di kawasan Buyung-Buyung sudah ada combine harvester mesin pemanen biji-bijian sekaligus penggilingan berasnya yang lebih modern, apalagi sekarang ada drone yang bisa menyemprot hama dari udara, tentu ini harus kita apresiasi,” katanya, Rabu (1/4/2026).
Sakirman mengakui, pola pelayanan yang dilakukan pihak dinas juga sudah cukup baik. Seperti informasi yang ia peroleh jika terdapat dua pola pelayanan yang diterapkan. Pertama, petani atau kelompok tani dapat melaporkan area yang membutuhkan penanganan, dan akan ditindaklanjuti dalam waktu satu hari.
Kedua, pelayanan dilakukan secara terjadwal berdasarkan wilayah yang telah ditentukan.
“Saya rasa kedua pola ini harus tetap dilaksanakan dengan maksimal, agar pelayanan juga bisa mencakup seluruh wilayah petani di Berau, khususnya padi sawah,” tambahnya.
“Kami dari legislatif akan mencoba bagaimana, dukungan di sektor pertanian di tahun ini maupun tahun-tahun mendatang tetap masuk dalam prioritas,” tandasnya. (*tim/ADV)
