detikberau.com, Tanjung Redeb – Wacana pembangunan jalur kereta api Trans Kalimantan kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Berau, Gamalis, memberikan pandangan kritis mengingat rencana besar ini sebenarnya telah digulirkan sejak lama namun belum kunjung terealisasi secara fisik di wilayah Kalimantan Timur.

Gamalis mengingatkan, bahwa proyek perkeretaapian ini bukanlah barang baru bagi masyarakat Bumi Etam.

Ia menilik kembali masa kepemimpinan mantan Gubernur Kaltim, mendiang Awang Faroek Ishak, yang bahkan telah melangkah jauh dengan menyiapkan sumber daya manusia melalui pengiriman mahasiswa ke luar negeri.

“Kereta api ini kan sebetulnya kalau kita lihat sudah sejak zamannya Pak Awang Faroek, malah sudah menyekolahkan orang ke Rusia, ke Moskow. Banyak anak-anak kita orang Kalimantan Timur yang belajar di Moskow di bidang perkeretaapian,” ujar Gamalis, dijumpai, Sabtu (4/5/2026).

Keseriusan pemerintah daerah di masa lalu bahkan melibatkan peninjauan langsung ke Rusia untuk memperkuat kerja sama tersebut. Gamalis menyebutkan dirinya merupakan salah satu pihak yang turut hadir dalam koordinasi internasional tersebut guna memastikan kelanjutan proyek.

“Saya termasuk salah satu orang yang waktu di DPR kemarin hadir di Moskow dalam rangka memberikan kepastian terkait kelanjutan rencana ini kepada pihak investor di sana,” tuturnya.

Menurutnya, saat itu mendiang Awang Faroek Ishak memanfaatkan momentum Russian-ASEAN Summit untuk melakukan lobi intensif.

Pemerintah daerah bahkan telah memberikan berbagai sinyal positif serta kemudahan fasilitas agar pembangunan rel kereta api bisa segera dimulai.

Namun, ia mengakui adanya kendala yang membuat proyek tersebut mandek di tengah jalan. Gamalis menduga ada pertimbangan dari sisi bisnis yang membuat pihak investor belum bergerak melakukan konstruksi meski jalur sempat direncanakan hingga ke Bontang.

“Harusnya waktu itu sudah berjalan karena kita sudah memberikan sinyal dan fasilitas. Tapi mungkin saja pihak Rusia atau pihak kereta api merasa ini belum bankable atau belum memiliki kesesuaian terkait profit,” jelasnya lagi.

Meski demikian, Gamalis mengaku tetap menaruh optimisme terhadap pembangunan infrastruktur transportasi ini. Hanya saja, ia menyayangkan durasi waktu yang sudah terlampau lama namun progresnya terkesan kembali ke titik awal tanpa ada langkah konkret di lapangan.

Ia pun membandingkan perkembangan infrastruktur di luar Pulau Jawa, seperti di Sulawesi, di mana proyek kereta api sudah mulai beroperasi meskipun tantangannya tidak jauh berbeda. Ia berharap Kalimantan bisa mendapatkan percepatan yang serupa atau bahkan lebih masif.

Menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan yang menyebut proyek ini masih dalam tahap kajian mendalam, Gamalis berharap proses tersebut tidak memakan waktu terlalu lama. Ia menilai seharusnya pemerintah pusat sudah pada tahap pengambilan keputusan final.

“Padahal harusnya tidak lagi pada kajian, tapi pada sebuah direalisasikan atau tidak. Ya tidak apa-apa kalau memang harus ada kajian lagi, mudah-mudahan kajian itu tidak lalu memberikan harapan-harapan saja kepada masyarakat,” pungkasnya. (inm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *