detikberau.com – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Berau, Sahabat Mupit Datusahlan, mengajak seluruh kader dan warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Berau untuk menjadikan, momentum Ramadan sebagai ruang konsolidasi spiritual sekaligus penguatan sosial di tengah kondisi ekonomi daerah yang sedang tidak stabil.

Dalam pernyataannya, Mupit menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga panggilan pengabdian kolektif ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi akibat melambatnya sektor usaha, terbatasnya lapangan kerja formal, kenaikan harga bahan pokok, serta dampak pengurangan anggaran yang hingga kini dirasakan sampai ke tingkat desa.

“Ramadhan adalah madrasah pengabdian. Di saat ekonomi Berau sedang tidak baik-baik saja, kader Ansor dan warga NU tidak boleh larut dalam keluhan. Kita harus hadir sebagai solusi,” tegasnya.

Pengabdian: Hadir di Tengah Umat

Menurutnya, dinamika ekonomi Berau yang masih bertumpu pada sektor ekstraktif dan komoditas membuat daya tahan masyarakat rentan ketika harga melemah atau proyek melambat. Kondisi ini berdampak pada ketersediaan lapangan kerja yang belum sepenuhnya mampu menyerap angkatan kerja produktif, khususnya generasi muda.

Di sisi lain, inflasi daerah yang dipicu oleh distribusi logistik dan ketergantungan pasokan dari luar wilayah turut menekan daya beli masyarakat. Pengurangan dan rasionalisasi anggaran di berbagai level pemerintahan, termasuk desa, juga membuat ruang fiskal untuk program pemberdayaan semakin terbatas.

Dalam konteks ini, Ansor Berau mendorong gerakan nyata berbasis jamaah: penguatan solidaritas sosial, optimalisasi zakat-infaq-sedekah, serta inisiatif ekonomi mikro berbasis komunitas.

Kaderisasi: Menyiapkan Generasi Tangguh

Mupit menekankan bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti hanya pada pelatihan formal. Kader Ansor harus disiapkan sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi.

“Kaderisasi itu bukan hanya soal struktur, tapi soal kapasitas. Kita harus menyiapkan kader yang paham kondisi ekonomi, mampu membaca peluang, dan berani menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari kerja.”

Ia mendorong agar setiap PAC dan Ranting Ansor di Berau menjadikan Ramadhan sebagai momentum penguatan literasi ekonomi umat: pelatihan kewirausahaan kecil, penguatan UMKM jamaah, serta kolaborasi lintas komunitas untuk membuka akses usaha produktif.

Penguatan Organisasi: Solid dan Responsif

Dalam situasi tekanan ekonomi, organisasi yang lemah akan mudah goyah. Karena itu, PC GP Ansor Berau menargetkan konsolidasi internal, pembenahan administrasi, serta penguatan komunikasi antar-kader.

Penguatan organisasi, menurut Mupit, bukan hanya untuk kepentingan struktural, tetapi agar Ansor benar-benar menjadi rumah perjuangan yang responsif terhadap problem riil masyarakat.

“Organisasi harus rapi, solid, dan punya arah. Kalau tidak, kita hanya jadi penonton dalam perubahan,” ujarnya.

Kebangsaan: Menjaga Stabilitas dan Harapan

Lebih jauh, Mupit mengingatkan bahwa tekanan ekonomi seringkali menjadi pintu masuk bagi polarisasi sosial dan penyebaran narasi pesimisme. Karena itu, semangat kebangsaan harus terus dirawat.

Ansor, sebagai badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama, memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas sosial, memperkuat moderasi, serta memastikan umat menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang dan penuh optimisme.

“Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga menahan diri dari sikap saling menyalahkan. Kita jaga Berau tetap kondusif, tetap bersatu, dan tetap produktif,” tegasnya.

Ajakan untuk Warga NU Berau

Di akhir pernyataannya, Ketua PC GP Ansor Berau itu mengajak seluruh warga NU menjadikan Ramadhan sebagai titik balik: memperkuat spiritualitas, memperluas solidaritas, dan memperdalam komitmen kebangsaan.

Di tengah keterbatasan lapangan kerja, tekanan inflasi, dan pengurangan anggaran hingga tingkat desa, Ansor Berau memilih untuk berdiri di garis depan pengabdian.

“Kalau ekonomi sedang berat, maka solidaritas harus diperkuat. Kalau anggaran berkurang, maka kreativitas harus ditingkatkan. Dan kalau tantangan membesar, maka pengabdian kita juga harus membesar,” pungkas Mupit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *