detikberau.com, Tanjung Redeb – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Sebab daerah ini, masih berada di iklim panas ekstrem yang diprakirakan puncaknya hingga Oktober 2026 mendatang.
Prakiran tersebut dari hasil pemaparan saat rapat koordinasi lintas sektor baik pemerintah daerah maupun provinsi Kaltim beberapa waktu lalu.
Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Muhdi menyatakan, hingga, Rabu (3/6/2026) sudah lima kasus yang ditangani petugas dengan luasan lahan mencapai 7 hektare.
Sedangkan titiknya, tersebar di tiga Kecamatan. Masing-masing yakni, Teluk Bayur dengan titik api berada di poros Labanan dua kali dan Meraang, Tumbit Melayu. Selanjutnya Sambaliung berada di Sei Bebanir Bangun dan Kampung Bukit Makmur, di Kecamatan Segah.
“Lima kasus tersebut terjadi sejak awal Mei 2026 kemarin, sampai sekarang kami juga masih bersiaga, karena puncak musim kemarau masih beberapa bulan lagi,” tegas Masyhadi.
Sementara untuk data korban jiwa dipastikan nihil dan tidak sampai berdampak terhadap kebakaran permukiman.
Mencegah api merambat ke permukiman, BPBD telah menggandeng instansi lain dalam hal penanganan di lapangan. Seperti Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), Manggala Agni termasuk pihak ketiga yang berada di sekitar kejadian.
Sementara terkait hambatan, Masyhadi menuturkan, hanya ketika memadamkan kobaran api yang jauh dari sumber air. Seperti saat posisi api berada di tengah hutan.
“Jadi ketika posisinya sulit dijangkau, maka solusi yang kami gunakan adalah dengan menggunakan pompa yang bisa kita bawa secara manual,” sebutnya. (*tim)
