detikberau.com, Tanjung Redeb – Pemerintah Kabupaten Berau mengklaim akan berupaya menuntaskan masalah gizi kronis dengan menargetkan angka prevalensi stunting turun menjadi 14,4 persen pada tahun 2024 mendatang.

Langkah strategis ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang membidik target ambisius nol persen stunting pada tahun emas 2045.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Bumi Batiwakkal masih berada di angka 21,6 persen.

Angka tersebut dinilai masih cukup tinggi karena berada di atas rata-rata nasional, sehingga memerlukan penanganan yang lebih serius dan terfokus.

Gamalis menyoroti adanya tantangan besar dalam hal pendataan balita di lapangan yang hingga saat ini belum mencapai angka maksimal.

Data Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (Sigiziter) tahun 2022 mencatat jumlah balita di Berau mencapai 23.105 anak, namun baru sebagian kecil yang terpantau.

“Sedangkan persentase balita yang diukur baru mencapai 40,06 persen. Artinya, kunjungan balita ke Posyandu tercatat masih rendah dan harus kita tingkatkan untuk memantau tumbuh kembang mereka,” ujar Gamalis, Senin (6/4/2026).

Rendahnya angka kunjungan ke Posyandu ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam upaya memastikan kesehatan anak. Peningkatan partisipasi masyarakat di fasilitas kesehatan dasar dianggap sebagai kunci utama untuk memastikan anak-anak Berau bebas dari ancaman stunting.

Berdasarkan evaluasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tahun 2022, kinerja aksi konvergensi stunting Kabupaten Berau sempat berada di posisi terbawah.

Saat itu, Berau menempati peringkat ke-10 dari 10 kabupaten/kota dengan skor capaian sebesar 94.

Kondisi tersebut memicu pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan menyeluruh melalui strategi kolaborasi dan integrasi antar sektor. Gamalis menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting harus dilakukan melalui delapan aksi konvergensi yang lebih fokus dan sistematis.

Upaya keras tersebut mulai membuahkan hasil signifikan pada tahun 2023, di mana posisi Kabupaten Berau melonjak tajam ke peringkat ketiga di Kaltim. Berau berhasil meraih skor 100 persen, berada tepat di bawah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser.

“Alhamdulillah, kita berada di peringkat ketiga di angka 100 persen. Ini tentu menjadi sebuah kabar baik dan apresiasi bagi seluruh pelaksana aksi konvergensi stunting ini,” tegas Gamalis di hadapan para peserta rapat.

Peningkatan peringkat ini didukung oleh aktifnya 13 kecamatan dalam melakukan input data yang rata-rata sudah di atas 50 persen.

Kecamatan Gunung Tabur memimpin dengan progres 89 persen, disusul Pulau Derawan 88 persen, dan Talisayan sebesar 83 persen.

Forum koordinasi yang dilaksanakan ini bertujuan untuk menyelaraskan strategi antarperangkat daerah serta mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan.

Selain itu, forum ini menjadi wadah untuk merumuskan inovasi dan mengoptimalkan peran Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di setiap tingkatan.

Sebagai Ketua TPPS Kabupaten Berau, Gamalis meminta seluruh jajaran dari tingkat kabupaten hingga kampung untuk menjaga komitmen bersama.

Integrasi usulan dari tingkat bawah ke perencanaan kabupaten diharapkan mampu mempercepat realisasi Berau bebas stunting demi kesejahteraan masyarakat. (inm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *