detikberau.com, Pulau Derawan – Pulau Derawan kembali menjadi sorotan. Bukan hanya soal keindahan bawah lautnya, melainkan soal nasib fasilitas pengolahan sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang baru saja diresmikan dengan penuh seremoni pada awal tahun ini.
Meski pita sudah digunting dan kamera sudah mengabadikan momen, kenyataan di lapangan rupanya masih menyisakan pekerjaan rumah yang cukup menumpuk.
Kehadiran Bupati dalam peresmian tersebut sedianya membawa angin segar bagi penanganan sampah di destinasi wisata unggulan Kalimantan Timur ini. Namun, gegap gempita peresmian tersebut kini mulai dipertanyakan efektivitasnya.
Pasalnya, sebuah bangunan tanpa dukungan fasilitas operasional yang mumpuni hanyalah akan menjadi pajangan kaku di tengah pemukiman warga.
Anggota Komisi III DPRD Berau, Saga, mengonfirmasi bahwa sorotan terhadap fasilitas ini memang nyata adanya. Ia membenarkan bahwa peresmian besar telah dilakukan beberapa bulan lalu, namun urgensi penyempurnaan alat pendukung tidak boleh dilupakan begitu saja oleh pemerintah daerah.
“Apalagi kan awal tahun ini kemarin Bupati juga ikut meresmikan TPS3R yang ada di Derawan tuh,” ujar Saga saat memberikan keterangannya terkait perkembangan fasilitas tersebut.
Namun, Saga memberikan catatan tebal. Menurutnya, kegemaran birokrasi dalam meresmikan gedung baru harus dibarengi dengan semangat yang sama dalam menyediakan alat penunjang. Jangan sampai, semangat membangun hanya berhenti di atas prasasti peresmian, sementara fungsi utamanya macet karena kendala teknis.
Ia menegaskan bahwa komunikasi dengan pihak pemerintah tingkat kampung sudah dilakukan secara intensif. Pihak legislatif ingin memastikan bahwa tidak ada waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk menunggu pengadaan alat yang seharusnya sudah dipersiapkan sejak awal perencanaan.
“Sudah kita sampaikan juga melalui kepala kampung pas kita ada kunjungan ke sana kan, untuk bagaimana itu fasilitas pendukungnya itu ya sesegera mungkin untuk dipenuhi,” tegas politisi tersebut dengan nada serius.
Saga juga menyentil fenomena “pembangunan setengah hati” yang kerap terjadi di berbagai daerah. Baginya, sebuah sistem pengolahan sampah tidak akan berjalan jika hanya mengandalkan dinding beton tanpa mesin pencacah atau armada pengangkut yang memadai.
“Jangan sampai kita hanya membangun tetapi tidak didukung dengan fasilitas untuk penyempurnaan yang ada itu, fasilitas yang ada itu,” lanjutnya mengingatkan agar pemerintah tidak lalai dalam detail operasional.
Harapan besar kini tertumpang pada keseriusan dinas terkait untuk segera melengkapi “jeroan” dari TPS3R Derawan tersebut. Publik tentu tidak ingin melihat fasilitas yang dibangun dengan uang rakyat tersebut berakhir menjadi gedung mangkrak yang perlahan termakan korosi udara laut. (inm/ADV)
