detikberau.com, Sambaliung – Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia di bidang ekonomi kreatif, PT Pama Persada Site Gurimbang mengembangkan pelatihan anyaman dari daun pandan kepada kelompok perempuan.

Bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Berau, kegiatan tersebut terselanggara dengan tujuan pemberdayaan perempuan dan pengembangan ekonomi alternatif non-tambang.

Digelar di Kampung Sei Bebanir Bangun, Gedung Basusuyan pada 22–24 Desember 2025 lalu. Pelatihan itu diikuti 25 perempuan dari berbagai kalangan dan usia.

Department Head CSR PAMA Berau, Faizal Imron, menyebut, pelatihan ini merupakan langkah awal dari pendampingan berkelanjutan.

Sebagaimana diketahui jika, keterampilan tersebut, sudah menjadi kemampuan secara turun temurun yang telah diajarkan kepada kalangan perempuan di Bebanir Bangun.

“Karya mereka yang sejauh ini banyak dikenal adalah tikar, itu mereka jual dan hasilnya untuk tambahan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Faizal, seiring berkembangnya zaman, minat masyarakat terhadap anyaman tradisional kian menurun. Kini produk modern berbagan plastik kerap menjadi incaran pasar.

Kondisi ini berdampak pada berkurangnya nilai ekonomi dari aktivitas menganyam dan membuat keterampilan tersebut perlahan ditinggalkan, terutama oleh generasi muda.

“Tantangan tersebut yang perlu kita kelola bersama, agar tren pasar dapat kembali kuat. Program ini pula, sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Berau dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal,” tandasnya.

Ketua Dekranasda Berau, Brigjen Pol (Purn) Edy Suswanto yang membuka secara resmi kegiatan menyebut, jika agenda yang digelar pihak perusahaan itu bukan sekadar seremonial.

Tetapi harus mempunyai dampak nyata melalui peningkatan kualitas produk, kapasitas pelaku, hingga perluasan akses pasar.

“Ini bentuk sinergi antara pemerintah daerah dan sektor swasta dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci terciptanya pembangunan yang berkelanjutan.

Terpisah, Instruktur dari Jawa Tengah, Danang Sudrajat menjelaskan, jika dalam pelatihan kali ini, pihaknya memberi pembekalan teknis, mulai dari teknik dasar menganyam, proses pewarnaan pandan, hingga pengembangan produk turunan bernilai tambah seperti tas, sandal, gantungan kunci, dan tatakan gelas.

“Melalui pelatihan ini, anyaman pandan diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang adaptif terhadap kebutuhan pasar,” katanya.

Dari Gedung Basusuyan, upaya membangun kemandirian ekonomi perempuan Kampung Bangun mulai dirajut—sebagai langkah kecil menuju sentra anyaman pandan yang berkelanjutan di Kabupaten Berau. (*tim/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *