detikberau.com, Tanjung Redeb – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Berau.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, turun langsung meninjau sejumlah Puskesmas, Kamis (3/9/2026), untuk melihat kondisi kesehatan warga di tengah memburuknya kualitas udara.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah kasus penyakit tersebut menunjukkan tren kenaikan.

Gamalis menyebut ISPA saat ini menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditangani fasilitas kesehatan. Berdasarkan data yang diterimanya, kasus ISPA berada di urutan kedua setelah hipertensi.

“Kasus ISPA ini harus kita hadapi bersama. Saat ini sudah menempati posisi kedua setelah hipertensi atau tekanan darah. Peningkatannya mulai terlihat sejak Juni, kemudian berlanjut pada Juli dan Agustus,” kata Gamalis.

Tak hanya jumlah penderita ISPA yang meningkat, persoalan kualitas udara juga menjadi perhatian pemerintah. Gamalis mengungkapkan kondisi udara, termasuk di dalam ruangan, telah menunjukkan kategori tidak sehat.

Salah satu faktor yang berpengaruh adalah tingginya Total Suspended Particulate (TSP), yakni kumpulan partikel padat maupun cair yang berada di udara. Partikel tersebut dapat berupa debu, asap, serbuk hingga uap air dengan ukuran yang sangat kecil hingga sekitar 100 mikrometer.

Gamalis juga menyoroti keberadaan PM2.5 yang dinilai berbahaya bagi kesehatan karena ukurannya sangat kecil dan dapat menembus sistem pertahanan alami tubuh.

“PM2.5-nya juga cukup banyak dan berbahaya. Ukurannya sudah tidak dapat tersaring oleh bulu hidung sehingga bisa masuk jauh ke paru-paru, bahkan menembus aliran darah,” jelasnya.

Dampak dari kondisi tersebut mulai dirasakan fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satunya terlihat di Puskesmas Tanjung Redeb, yang mencatat 380 kasus ISPA.

Sedangkan secara umum untuk Kabupaten Berau, penderita penyakit tersebut tercatat sudah mencapai 20.549 kasus.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan Juli. Pada bulan tersebut, kasus ISPA yang tercatat berada di angka 190 pasien.

Dokter Umum Puskesmas Tanjung Redeb, Nina Damayanti Madjid, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada, khususnya ketika kondisi udara berada dalam kategori tidak sehat.

Menurutnya, masyarakat dapat mengurangi risiko paparan dengan menerapkan langkah pencegahan sederhana dalam aktivitas sehari-hari.

“Perlu dilakukan tindakan pencegahan, seperti menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak ada keperluan yang mendesak,” ujar Nina.

Kelompok rentan, lanjut Nina, menjadi pihak yang perlu mendapat perhatian lebih. Anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan udara yang buruk. Hal serupa juga berlaku bagi masyarakat yang memiliki riwayat asma dan alergi.

“Sebagian besar pasien yang kami tangani adalah anak-anak,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Berau telah mengeluarkan imbauan agar kegiatan Posyandu untuk sementara dihentikan di seluruh kecamatan.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko paparan terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan ibu hamil, sekaligus mengantisipasi dampak kesehatan yang dapat muncul seiring memburuknya kualitas udara dan meningkatnya kasus ISPA. (*tim/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *