detikberau.com, Teluk Bayur – Cuaca panas dan kondisi lahan yang kering membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Labanan, Kabupaten Berau, kembali ditingkatkan.
Di tengah kondisi tersebut, PT Hutan Sanggam Berau (HSB) menambah kekuatan Posko Pengendalian Karhutla (Dalkarhutla) Sektor Labanan, KPHP Wilayah Berau Barat.
Perusahaan menyerahkan satu kendaraan operasional, empat personel, serta sejumlah kebutuhan logistik untuk menunjang aktivitas petugas di lapangan.
Tambahan tersebut diharapkan memperkuat respons posko ketika muncul titik panas maupun kebakaran lahan.
Direktur Operasional PT. HSB YP Kurniawan mengatakan, keterlibatan perusahaan merupakan bagian dari komitmen dalam membantu pengendalian karhutla sekaligus menjaga kelestarian hutan di wilayah operasional perusahaan dan sekitarnya.
“Kami menyerahkan bantuan personel dan logistik untuk penanganan karhutla,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).

Empat personel yang diturunkan terdiri dari dua pegawai tetap dan dua tenaga outsourcing. Mereka akan membantu mobilisasi petugas serta proses pemadaman apabila terjadi kebakaran.
Selain tenaga tambahan, HSB juga menyediakan bahan bakar minyak (BBM), konsumsi, bahan makanan, serta perlengkapan penunjang pemadaman.
“Empat personel kami ikut membantu di lapangan,” kata Kurniawan.
Menurutnya, keterlibatan tersebut bukan kali pertama dilakukan. Setiap tahun, perusahaan turut membantu kebutuhan Posko Sektor Labanan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Kurniawan berharap kolaborasi tersebut dapat membantu petugas bergerak lebih cepat ketika kondisi di lapangan membutuhkan penanganan segera. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah, terutama saat cuaca panas dan lingkungan dalam kondisi kering.
“Kami mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar,” ujarnya.
Sementara itu, Danru Posko Sektor Labanan Dwi Susilo mengapresiasi keterlibatan PT HSB. Menurutnya, tambahan personel dan sarana operasional sangat berarti bagi petugas yang berada di lapangan, terlebih penanganan kebakaran membutuhkan tenaga serta mobilitas yang memadai.
“Disdamkar lebih banyak menangani pemadaman di permukiman,” jelasnya.
Karena itu, keterlibatan perusahaan yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran dinilai penting. Dukungan kendaraan, BBM, personel, konsumsi, hingga peralatan pemadaman dapat membantu petugas menghadapi kebakaran yang sewaktu-waktu muncul.
Dwi mengatakan keterbatasan anggaran masih menjadi salah satu tantangan dalam pengendalian karhutla. Kondisi tersebut membuat posko membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar respons terhadap kebakaran dapat dilakukan secara maksimal.
“Kami masih mengalami keterbatasan anggaran,” ungkapnya.
Ia menyebut HSB sebagai salah satu perusahaan yang konsisten membantu Posko Sektor Labanan setiap tahun. Tambahan tenaga dan sarana yang diberikan dinilai cukup membantu ketika petugas harus bergerak cepat menuju lokasi kebakaran.
“HSB setiap tahun membantu kami di sini,” katanya.
Dalam penanganan di lapangan, petugas juga tidak bekerja sendirian. Posko turut mengandalkan masyarakat dan relawan yang ikut membantu ketika proses pemadaman membutuhkan tenaga tambahan.
“Selain petugas, kami banyak dibantu relawan,” ujarnya.
Dwi berharap kolaborasi serupa juga dilakukan perusahaan lain maupun pemilik lahan di sekitar kawasan rawan kebakaran. Menurutnya, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin cepat pula respons dapat dilakukan ketika titik panas mulai terdeteksi.
“Kalau perusahaan lain ikut membantu, penanganan akan lebih optimal,” pungkasnya. (*tim/ADV)
