detikberau.com, Tanjung Redeb – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau mulai menyusun langkah strategis untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam daerah.

Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar baru-baru ini, Diskoperindag bersama Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda mulai menggodok draf awal roadmap (peta jalan) hilirisasi untuk komoditas kelapa dan kakao.

Kabid Perindustrian Diskoperindag Berau, Reta Noratni, menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi komprehensif dari seluruh kecamatan. Mengingat setiap kampung memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda, pemetaan yang akurat menjadi kunci utama, Sebelum melangkah ke tahap industri yang lebih besar.

“FGD ini bertajuk dengan penyusunan draf awal roadmap hilirisasi kelapa dan kakao. Diskoperindag ini bekerja sama dengan Pusat Kajian Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah Universitas Mulawarman, Samarinda,” ujarnya.

Langkah ini diambil untuk mendukung program kepala daerah yang menetapkan kelapa, kakao, dan jagung sebagai tiga produk unggulan Berau.

Diskoperindag ingin memastikan bahwa komoditas ini tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah melalui proses pengolahan atau hilirisasi yang tepat sasaran.

Reta menekankan bahwa keterlibatan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sangat krusial dalam memberikan data mengenai potensi kampung di 13 kecamatan. Pasalnya, produk turunan dari kelapa dan kakao sangat beragam, mulai dari sektor pangan, kerajinan, hingga industri kecantikan.

“Sehingga kita mengumpulkan beberapa OPD agar mereka memberikan informasi terkait potensi kampungnya masing-masing. Karena dari produk kakao maupun kelapa ini macam-macam, ada yang berupa makanan, kosmetik, sabun batangan, sabun cair, kemudian ada juga minyak goreng kelapa,” jelasnya lebih lanjut.

Dalam forum tersebut, muncul temuan menarik bahwa potensi kelapa tidak hanya didominasi oleh wilayah pesisir. Reta menyebutkan adanya tambahan informasi mengenai potensi kelapa di wilayah seperti Sukan dan Bangun di Kecamatan Sambaliung, yang membuktikan bahwa persebaran komoditas ini sangat luas di Bumi Batiwakkal.

Lebih detail, Reta menggambarkan betapa besarnya nilai ekonomi yang bisa dihasilkan dari satu pohon kelapa jika dikelola dengan baik.

“Kelapa itu dari sabut sampai kikisnya, itu semuanya duit itu, cuan itu. Di kota besar, sabutnya, tempurungnya, sampai ampas minyaknya bisa jadi gudeg dan kulitnya untuk pakan ternak. Jadi semua bagian kelapa bermanfaat,” tambahnya.

Sementara untuk kakao, kualitas produk Berau dinilai sudah memiliki nama besar bahkan hingga ke mancanegara. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan Bupati ke Belanda baru-baru ini untuk mempromosikan kakao lokal, sehingga penyusunan roadmap ini dianggap mendesak agar produksi hilirnya semakin tertata.

Hasil dari FGD ini nantinya akan direvisi oleh pihak Unmul berdasarkan masukan para peserta. Dokumen roadmap yang final akan menjadi landasan hukum bagi Pemerintah Kabupaten Berau untuk menetapkan titik-titik lokasi sentra industri atau rumah produksi melalui Surat Keputusan (SK) Bupati.

“Nah, jika ada nanti dokumen roadmap-nya, ini sebagai dasar kami juga mengajukan beberapa titik lokasi sentra atau rumah produksi. Karena kita bergerak berdasarkan SK Bupati, jadi roadmap ini adalah dasarnya,” pungkas Reta menutup penjelasannya. (inm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *