detikberau.com, Gunung Tabur – Bagi Sultan, 600 liter air bukan sekadar angka. Di tengah kemarau yang tak kunjung berakhir, air sebanyak setengah tandon itu menjadi bekal penting untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Warga RT 9 Kelurahan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, itu sudah lama mengandalkan air parit untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, kemarau panjang membuat sumber air yang selama ini menjadi andalan tersebut perlahan menyusut hingga akhirnya mengering.
“Sudah lama susah air, mulai dari kemarau. Sehari-hari biasanya pakai air parit, tapi sekarang air paritnya juga sudah kering dan tinggal sedikit,” tutur Sultan.
Kedatangan petugas gabungan yang membawa bantuan air bersih pun menjadi kabar yang melegakan. Hari itu, rumah Sultan mendapat sekitar setengah tandon atau 600 liter air.
“Hari ini dapat bantuan air, ada sekitar setengah tandon (600 liter). Sangat membantu untuk kebutuhan harian di rumah,” ungkapnya.
Kondisi serupa dialami warga di sejumlah wilayah Kelurahan Gunung Tabur. Sedikitnya lima RT, yakni RT 7, 9, 12, 14, dan 17, kini menghadapi keterbatasan pasokan air bersih. Sekitar 1.000 jiwa terdampak akibat sumber-sumber air di sekitar permukiman yang mengering.
Sungai dan parit yang biasanya menjadi tempat warga memperoleh air kini tak lagi bisa diandalkan. Sebagian telah mengering, sementara sumber air yang masih tersisa kondisinya keruh sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Lurah Gunung Tabur, Achmad Rizali, mengatakan persoalan tersebut berulang setiap kali musim kemarau datang. Namun, kemarau kali ini membuat keterbatasan air semakin dirasakan warga.
“Kondisi ini dialami warga selama musim kemarau. Sungai-sungai di sekitar pemukiman mengering. Kalaupun masih ada airnya, kondisinya keruh dan tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Rizali.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih menjadi salah satu tumpuan warga untuk bertahan. Pemerintah kelurahan bersama Muspika, Polres Berau, dan TNI melakukan penyaluran air secara berkala ke wilayah yang terdampak.
Hingga saat ini, sedikitnya tiga kali penyaluran telah dilakukan. Bantuan datang dari berbagai pihak, mulai dari Polres Berau, Danramil, hingga pemerintah kelurahan bersama Muspika.
“Untuk musim kemarau sekarang, kami sudah tiga kali melakukan penyaluran. Sekali bantuan dari Polres, sekali dari Danramil, dan kali ini kami dari pihak kelurahan bersama Muspika,” jelas Rizali.
Namun, upaya memenuhi kebutuhan warga bukan tanpa kendala. Kapasitas armada tangki milik Damkar yang digunakan untuk mengangkut air hanya mampu membawa sekitar 5.000 liter dalam sekali perjalanan.
Jumlah tersebut membuat distribusi harus dilakukan secara bertahap. Dalam satu kali pengantaran, air yang tersedia paling banyak hanya dapat memenuhi kebutuhan sekitar 10 hingga 12 rumah.
“Karena kapasitas unit armada kita terbatas 5.000 liter, sekali pengantaran itu paling bisa memenuhi kebutuhan sekitar 10-12 rumah saja,” ujar Rizali.
Bagi warga yang sedang menunggu sumber air kembali terisi oleh hujan, setiap bantuan menjadi sangat berarti. Sebab, kebutuhan air tidak berhenti pada satu atau dua hari. Air diperlukan untuk minum, memasak, mencuci, mandi, dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya.
Di Gunung Tabur, kemarau akhirnya bukan hanya soal panas yang menyengat atau tanah yang mengering. Bagi sebagian warga, kemarau berarti menghitung persediaan air dari hari ke hari.
Sultan dan warga lainnya kini berharap bantuan pasokan air bersih tidak berhenti selama kondisi kekeringan masih berlangsung. Mereka membutuhkan distribusi yang konsisten hingga hujan kembali turun dan sumber-sumber air di sekitar permukiman kembali terisi.
Sebab, di tengah kemarau panjang, setengah tandon berisi 600 liter air bukan hanya bantuan. Bagi warga yang sumber airnya telah mengering, jumlah itu adalah harapan untuk bertahan satu hari lagi. (mgn)
