detikberau.com, Teluk Bayur – Kecamatan Teluk Bayur memilih tidak menggelar upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada tahun ini. Keputusan tersebut menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.

Salah satu bentuk protes ditunjukkan seorang emak-emak yang rela mengibarkan bendera Merah Putih di tengah Lapangan Steenkolen 1912, lokasi yang selama ini kerap digunakan Kecamatan Teluk Bayur untuk menggelar upacara 17 Agustus.

Aksi tersebut kemudian viral dan menuai beragam komentar dari netizen. Menanggapi hal itu, Camat Teluk Bayur, Edi Baskoro, memberikan klarifikasi saat ditemui, Senin (17/8/2026), usai mengikuti upacara penurunan bendera di GOR Pemuda, Tanjung Redeb.

Edi menjelaskan, keputusan untuk tidak menggelar upacara di tingkat kecamatan diambil dengan mempertimbangkan kondisi anggaran yang dinilai tidak memungkinkan. Ia tidak ingin pelaksanaan kegiatan justru menimbulkan beban keuangan bagi pemerintah kecamatan.

“Keputusan itu telah dimusyawarahkan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam),” ujarnya.

Menurut Edi, apabila upacara tetap dipaksakan dengan kondisi anggaran yang ada, dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan bagi sejumlah pihak yang terlibat. Di antaranya penyediaan tenda, tenaga panitia, sound system hingga katering.

“Untuk menghindari adanya berbagai keberatan dari pihak-pihak tersebut, maka kami memilih untuk bijak menyiasatinya,” sambungnya.

Sebelumnya, Kecamatan Teluk Bayur juga sempat berencana menggandeng pihak ketiga untuk mendukung pelaksanaan upacara. Namun, setelah dilakukan koordinasi, pihak ketiga turut menyampaikan kondisi serupa, yakni tengah menghadapi keterbatasan keuangan dan melakukan efisiensi.

Di sisi lain, Kecamatan Teluk Bayur sebelumnya juga telah mengajukan permohonan dukungan dana untuk kegiatan lainnya.

“Perusahaan sekitar Teluk Bayur juga sama, banyak keterbatasan dan bahkan efisiensi sehingga tidak bisa memberikan bantuan,” ungkap Edi.

Selain persoalan anggaran, Edi menyebut kondisi lokasi pelaksanaan upacara juga menjadi pertimbangan. Jika tetap digelar di Lapangan Steenkolen 1912, lapangan tersebut harus terlebih dahulu dibenahi. Hal itu tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Terlebih, lokasi tersebut juga tengah dipersiapkan sebagai salah satu ikon wisata Kota Tua.

“Ada opsi ingin menggunakan stadion mini, tetapi lokasi tersebut juga digunakan Paskibraka tingkat kabupaten untuk tempat latihan sekaligus tempat karantina,” tambah Edi.

Berbagai pertimbangan tersebut akhirnya membuat pihak kecamatan mengambil keputusan untuk tidak menggelar upacara peringatan HUT ke-81 RI pada 2026.

Edi menegaskan, keputusan tersebut bukan berarti Kecamatan Teluk Bayur mengabaikan peringatan kemerdekaan, melainkan bagian dari upaya mengelola anggaran secara lebih bijak.

“Dengan anggaran yang ada, sementara bakal banyak kegiatan ke depan, kami dari kecamatan memilih untuk lebih bijak mengelola porsi anggaran. Hal ini untuk menghindari terjadinya utang di kemudian hari,” tandasnya. (*tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *