detikberau.com, Segah – Ratusan masyarakat etnis dayak Kenyah Lepoq di Kampung Tepian Buah berkumpul di balai adat Pelencau Apui, mengikuti rangkaian prosesi Uman Undat. Yakni, upacara turun-temurun sebagai rasa syukur atas hasil panen terutama padi.
Acara yang berlangsung sepanjang, Sabtu (23/5/2026) tersebut, diakui telah ada sejak suku ini masih menganut keyakinan terhadap roh leluhur (animisme) di zaman dahulu kala.
Meski telah berganti era, agenda ini tetap dilestarikan warga dayak Tepian Buah sebagai bentuk kepatuhan terhadap warisan budaya adat istiadat. Namun, dengan nuansa yang telah diganti sesuai dengan kepercayaan di masa modern.
Cerita Dibalik Terlaksananya Uman Undat
Ketua Adat setempat, Askila Lujuk menceritakan, jika dahulunya, Dayak Kenyah percaya akan dua dewa Adat Pu’un hingga peralihan ke Ungan Walan Pesung Uluan. Pada era ini, etnis setempat wajib melaksanakan ritual yang dinamakan Uman Undat.
Waktunya adalah ketika pasca musim panen padi. Kala itu, masyarakat memaknainya sebagai pesta rakyat ungkapan rasa senang, karena telah dibantu oleh dewa untuk keberhasilan panen.
“Jadi setelah panen padi selesai, kita wajib melaksanakan Uman Undat yang dimana maksudnya, kita bersyukur kepada sang dewa karena telah memimpin kita dalam satu siklus musim tanam padi,” ujarnya.
Petua di kampung itu pula, menyatakan, pada zaman sekarang, dimana telah adanya agama maka proses adat dilakukan sedikit perubahan. Tidak lagi digelar untuk memberi senang roh leluhur, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Kuasa.
“Jadi bentu-bentuk upacara ini tetap kita laksanakan, cuma ada beberapa bagian yang dulu kaitannya dengan adat itu kita hilangkan, dan kita arahkan ke Sang Maha Kuasa atau Tuhan,” jelasnya.
Ia juga meluruskan persepsi keliru mengenai waktu pelaksanaan ritual ini. Askila menegaskan, Uman Undat wajib digelar setiap tahun setelah proses potong padi selesai, tanpa harus menunggu adanya panen raya yang besar.
“Berapapun hasil yang kita dapatkan, mau itu satu kaleng (beras), atau seratus kaleng kita harus tetap mensyukuri bahwa Sang Pencipta sudah memelihara dan menjaga kita semua dalam satu musim tanam,” tegasnya.

Filosofis Uman Undat
Askila menceritakan, Uman Undat berasal dari dua kata Bahasa tradisional Dayak Kenyah Lepoq. Yakni Uman yang berarti makan dan Undat adalah tepung beras. Secara filosofis, adalah makan tepung beras.
Tepung beras yang dimaksud adalah padi hasil gotong royong yang dikumpulkan ke dalam satu lesung dan ditumbuk bersama-sama hingga halus, selanjutkan dibungkus ke dalam bambu lalu dimasak di atas bara api dan disantap bersama-sama.
“Kalau adat yang dulu, sebagian ada kita sisihkan untuk Bale Mata’i. Itu adalah roh-roh keluarga yang meninggal pada waktu pembukaan ladang namun tidak sempat menikmati hasil dari padi itu, hasil dari panen itu kita sisihkan sedikit ke kuburan,” ungkap Askila menceritakan.
Rasa kebersamaan itulah yang menciptakan syukur bagi etnis setempat yang oleh para penerusnya masih lestari hingga kini. (*tim)
