detikberau.com, Tanjung Redeb – Peminat rumah singgah atau homestay di lokasi wisata yang ada di Berau kerap pasang-surut. Sebab, keberadaanya kian tergeser dengan keberadaan resort yang lebih memadai, terutama dalam segi fasilitas.

Situasi itu, yang kemudian membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berniat memberikan atensi khusus terhadap pengembangan homestay di berbagai destinasi unggulan. Tujuan utamanya, sebagai akomodasi kerakyatan yang lebih ramah di kantong.

Langkah ini diambil guna memastikan bahwa denyut nadi pariwisata tidak hanya dinikmati oleh pemodal besar, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan bagi warga di lingkar wisata.

Upaya ini selaras dengan visi jangka panjang Berau dalam keberagaman pendapatan daerah, agar tidak bergantung sepenuhnya pada sektor pertambangan.

“Promosi destinasi yang gencar harus diimbangi dengan peningkatan fasilitas yang mumpuni,” kata Plt. Kadisbudpar Berau, Warji.

Rumah singgah dengan kualitas yang lebih menjanjikan, kata Warji, adalah kunci mendorong kontribusi ekonomi pariwisata dapat langsung dirasakan oleh lapisan masyarakat kalangan bawah.

“Ciptakan sirkulasi ekonomi lokal. Wisatawan makan di warung, beli oleh-oleh, naik kendaraan lokal, menginap di rumah warga semua itu menambah pendapatan masyarakat meski tidak tercatat sebagai pajak,” jelasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa nilai ekonomi homestay jauh melampaui sekadar urusan retribusi, melainkan tentang perputaran uang di ekosistem desa.

Ditunjukkan pula dengan, pengalokasian anggaran untuk penguatan kapasitas warga di kampung-kampung wisata strategis, seperti Derawan, Maratua, Biduk-biduk, hingga Biatan melalui kucuran dana APBD 2025.

Program didalamnya, mencakup pelatihan pengelolaan penginapan yang standar, keterampilan membuat kerajinan tangan, hingga pemantapan keahlian pemandu wisata (tour guide) lewat kelompok sadar wisata (pokdarwis).

“Harapan saya, semua sisi berperan penting dalam pengembangan pariwisata, yang dapat berimbas pada peningkatan ekonomi warga dan sumber PAD yang naik secara signifikan,” ujarnya.

Optimisme ini muncul di tengah tren pariwisata berkelanjutan yang kini lebih mengutamakan interaksi budaya antara pelancong dan penduduk asli, sebuah peluang emas yang dimiliki oleh kekayaan budaya Berau.

Menuju kemandirian ekonomi ini bukan tanpa hambatan, mengingat keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan klasik bagi sektor pariwisata di daerah.

Warji optimis, dengan skema transisi yang bertahap dan berkelanjutan, Berau mampu membangun fondasi pariwisata yang mandiri dan tidak rentan terhadap fluktuasi (naik-turunnya harga) ekonomi makro.

“Bangun fondasi itu penting. Kita ingin pariwisata Berau terus tumbuh dan memberi manfaat kepada masyarakat terutama yang berkecimpung di dunia kepariwisataan ini,” tutupnya. (inm/*tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *